May 5, 2025

BPDP 2025-Reiva Farah Dwiyana

Calon Promotor Program Doktoral Padjadjaran Tahun 2025

 

Nama Lengkap: Dr. Reiva Farah Dwiyana, dr., Sp.D.V.E., Subsp.D.A., M.Kes.

E-mail[email protected]

Bidang Keahlian: Dermatologi Anak

Prodi S3 Calon Mahasiswa: Kedokteran: Kesehatan Dermato-Alergoinunologi Penyakit Kulit dan Kelamin

Judul Penelitian yang Ditawarkan:

Gangguan Tidur, Restriksi Makanan, dan Dermatitis Atopik sebagai Faktor Predisposisi Terjadinya Stunting pada Anak

Sleep Disturbance, Food Restrictions, and Atopic Dermatitis as Predisposing Factors for Stunting in Children

 

Abstrak:

Stunting pada anak masih menjadi masalah kesehatan global. Dermatitis atopik (DA) diketahui memiliki peran terhadap terjadinya stunting. DA merupakan penyakit inflamasi pada kulit dengan morfologi yang bervariasi, bersifat kronis, dan berulang, terutama mengenai bayi dan anak, dengan gejala subjektif berupa rasa gatal dan distribusi khas tergantung kelompok usia tertentu. Prevalensi DA pada anak berkisar antara 15–20% dan 1–3% pada usia dewasa, dengan insidensi semakin meningkat hingga 2–3 kali lipat pada beberapa dekade terakhir. Secara global, 171– 314 juta anak mengalami stunting, dengan prevalensi di Indonesia cukup tinggi pada dekade terakhir (37%). Persentil tinggi dan berat badan, z-score, dan kecepatan pertumbuhan anak dengan DA diketahui lebih rendah dibandingkan dengan anak tidak dengan DA. Peran DA sebagai faktor predisposisi utama yang memengaruhi stunting pada anak disebabkan karena berbagai faktor, antara lain gangguan tidur, restriksi makanan, dan penggunaan kortikosteroid jangka panjang. Gangguan tidur, yang umum terjadi pada anak dengan DA dikaitkan dengan terjadinya stunting. Growth hormone (GH) erat kaitannya dengan pertumbuhan tinggi badan anak, yang mencapai puncaknya segera setelah anak tidur. Oleh karena itu, gangguan tidur dapat menurunkan sekresi GH, sehingga mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan anak. Restriksi makanan pada anak dengan DA berkisar antara 16–75%. Pada sebagian besar kasus, restriksi makanan dilakukan oleh orang tua atau pengasuh sebagai bagian dari pengobatan DA tanpa saran atau pengawasan medis. Anak dengan restriksi makanan memiliki asupan kalori, protein, karbohidrat, lemak, riboflavin, vitamin B12, fosfor, kalsium, dan zat besi yang rendah, yang penting untuk proses pertumbuhan. Penggunaan kortikosteroid jangka panjang tidak dapat dihilangkan sebagai penyebab stunting pada anak dengan DA. Anak dengan penyakit kronis dan berat dapat menerima terapi berupa kortikosteroid sistemik (KS) jangka panjang. Hal ini diketahui berpengaruh terhadap proses pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor pada DA beserta kadar dari masing-masing faktor yang berperan terhadap terjadinya stunting pada anak. Penelitian ini bersifat deskriptif secara potong lintang (cross-sectional study) untuk melihat kadar GH, insulin-like growth factor-1 (IGF-1), dan status gizi pada pasien DA anak dengan stunting di Klinik Dermatologi Anak Poliklinik Dermatologi Venereologi dan Estetika (DVE) RSUP Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Pemilihan pasien yaitu pasien anak (usia 2–18 tahun) dengan lesi serta predileksi khas sesuai usia (bayi atau anak) didiagnosis DA apabila memenuhi tiga kriteria mayor dan tiga kriteria minor Hanifin-Rajka dan tidak mengonsumsi KS dalam 1 minggu terakhir. Penilaian derajat keparahan DA menggunakan indeks SCORing for Atopic Dermatitis (SCORAD) dengan interpretasi ringan (SCORAD <25), sedang (SCORAD 25–50), dan berat (SCORAD >50). Evaluasi stunting pada pasien DA anak dengan pengukuran tinggi badan terhadap usia (TB/U) menggunakan z-score. Penilaian gangguan tidur melalui anamnesis, pengisian kuesioner, dan sleep diaries. Pola gangguan tidur dilihat efeknya terhadap kadar GH dan IGF-1 melalui pemeriksaan laboratorium, dengan sampel diambil dari darah. Restriksi makanan dievaluai melalui amannesis, pengisian kuesioner, dan 24-hours recall. Pola makan dilihat dari kadar kalori, protein, karbohidrat, lemak, riboflavin, vitamin B12, fosfor, kalsium, dan zat besi berdasarkan angka kecukupan gizi (AKG). Selanjutnya dilakukan pengolahan data dan uji statistik.

 

Abstract:

Stunting in children is still a global health problem. Atopic dermatitis (AD) is known to play a role in the occurrence of stunting. AD is an inflammatory skin disease with varying morphology, chronic, and recurrent, mainly affecting infants and children, with subjective symptoms in the form of itching and a typical distribution depending on the age group. The prevalence of AD in children ranges from 15–20% and 1–3% in adults, with the incidence increasing by 2–3 times in recent decades. Globally, 171–314 million children experience stunting, with a prevalence in Indonesia being quite high in the last decade (37%). The height and weight percentiles, z-scores, and growth velocity of children with AD are known to be lower than those of children without AD. The role of AD as the main predisposing factor influencing stunting in children is due to various factors, including sleep disorders, food restrictions, and long-term use of corticosteroids Sleep disorders, which are common occurs in children with AD associated with stunting. Growth hormone (GH) is closely related to the growth of children’s height, which peaks immediately after the child sleeps. Therefore, sleep disturbances can reduce GH secretion, resulting in stunted growth and development of children. Food restrictions in children with AD range from 16–75%. In most cases, food restrictions are carried out by parents or caregivers as part of AD treatment without medical advice or supervision. Children with food restrictions have low intakes of calories, protein, carbohydrates, fat, riboflavin, vitamin B12, phosphorus, calcium, and iron, which are important for the growth process. Long-term use of corticosteroids cannot be eliminated as a cause of stunting in children with AD. Children with chronic and severe diseases can receive therapy in the form of long-term systemic corticosteroids (CS). This is known to affect the growth process. This research aims to determine the factors in AD along with the levels of each factor that play a role in stunting in children. This research will be conducted using a descriptive cross-sectional study to see the levels of GH, insulin-like growth factor-1 (IGF-1), and nutritional status in pediatric AD patients with stunting at the Pediatric Dermatology Clinic, Dermatology Venereology and Aesthetics (DVE) Polyclinic, Dr. Hasan Sadikin General Hospital (RSHS) Bandung. The selection of patients, namely pediatric patients (aged 2–18 years) with typical lesions and predilections according to age (infants or children) were diagnosed with AD if they met three major criteria and three minor criteria of Hanifin-Rajka and had not consumed KS in the last 1 week. Assessment of the severity of AD used the SCORing for Atopic Dermatitis (SCORAD) index with mild interpretation (SCORAD <25), moderate (SCORAD 25–50), and severe (SCORAD>50). Evaluation of stunting in pediatric AD patients with height-to-age (H/U) measurements using z-score. Assessment of sleep disorders through anamnesis, filling out questionnaires, and sleep diaries. Sleep disturbance patterns were seen in terms of their effects on GH and IGF-1 levels through laboratory tests, with blood samples taken. Food restrictions were evaluated through amannesis, questionnaires, and 24-hour recall. Dietary patterns were seen in terms of calorie, protein, carbohydrate, fat, riboflavin, vitamin B12, phosphorus, calcium, and iron levels based on nutritional adequacy. Furthermore, data processing and statistical tests were carried out.

Artikel terkait