May 5, 2025

BPDP 2025-Oki Suwarsa

Calon Promotor Program Doktoral Padjadjaran Tahun 2025

 

Nama Lengkap: Prof.Dr. Oki Suwarsa, dr., M.Kes., Sp.DVE. Subsp. DAI.

E-mail[email protected]

Bidang Keahlian: Imuno Dermatologi, Imunologi Alergi, Dermatologi

Prodi S3 Calon Mahasiswa: Ilmu Kedokteran

Judul Penelitian yang Ditawarkan:

Efektivitas Sediaan Topikal Ciplukan (Physalis Angulata Linn.) terhadap Perubahan Klinis dan Molekuler Sitokin Penanda Inflamasi pada Lesi Pasien Dermatitis Atopik

The Effectiveness of Topical “Ciplukan” (Physalis Angulata Linn.) Preparations on Clinical and Molecular Changes of Inflammatory Cytokine Markers in Atopic Dermatitis Lesions

 

Abstrak:

Dermatitis atopik (DA) merupakan suatu penyakit peradangan pada kulit yang bersifat kronis dan berulang. Manifestasi klinis DA ditandai dengan rasa gatal yang signifikan, sehingga dapat menyebabkan trauma pada kulit serta gangguan tidur. Patogenesis DA terjadi diduga akibat interaksi yang kompleks antara faktor genetik, lingkungan, gangguan sawar kulit, dan gangguan sistem imun. Gen yang berperan pada gangguan sawar kulit DA terletak di kromosom 1q21, yaitu gen filaggrin. Mutasi pada filaggrin berperan penting dalam terjadinya gangguan sawar kulit, penurunan kadar seramid, peningkatan enzim proteolitik endogen, dan peningkatan trans epidermal water loss (TEWL). Gen yang berperan pada respon imunologis DA terletak pada kromosom 5q31-33 yang mengatur sitokin T-helper (Th) 2 yaitu interleukin (IL)-3, IL-4, IL-5, IL-13, dan granulosit macrophage colony stimulating factor (GM-CSF). Tatalaksana DA bertujuan untuk mengurangi gejala, mencegah kekambuhan penyakit, dan meningkatkan kualitas hidup. Penggunaan kortikosteroid topikal merupakan salah satu cara untuk mengurangi inflamasi pada DA.  Pemberian korstikosteroid topikal jangka panjang tidak disarankan karena dapat menimbulkan efek samping seperti atrofi, telangiektasis, striae, erupsi akneiformis, dermatitis perioral, dan hiper/hipopigmentasi. Physalis angulata Linn. atau ciplukan atau cecendet merupakan tanaman dari familia Solanaceae yang tumbuh di daerah tropis. Pada penelitian Pereda dkk. Tahun 2018, diketahui bahwa sitosterol, stigmasterol, dan physalin yang terkandung dalam ekstrak ciplukan memengaruhi inflamasi dan proses imunologis seperti hidrokortison secara in-vitro, tanpa mengurangi faktor-faktor penyembuhan kulit. Secara in-vivo, krim ciplukan mengurangi mikrosirkulasi dan suhu kulit secara bermakna setelah aplikasi zat iritan methyl nicotinate pada kulit manusia. Terapi sediaan topikal ciplukan (Physalis angulata Linn.) memiliki efek samping minimal tetapi miliki efek terapi alternatif yang besar manfaatnya. Metode penelitian ini dilakukan dengan cara mengevaluasi efektivitas sediaan topikal ciplukan (Physalis angulata Linn.) dalam vaselin album dengan konsentrasi 1:2 yang dibandingkan dengan krim betametason valerat 0,1% sebagai antiinflamasi pada lesi DA. Parameter yang digunakan untuk melihat efektivitas sediaan topikal ciplukan tersebut berupa pengukuran TEWL menggunakan tewameter, hidrasi menggunakan korneometer, dan perubahan warna eritem pada lesi menggunakan spektrofotometer.

 

Abstract:

Atopic dermatitis (AD) is a chronic and recurrent inflammatory skin disease. The clinical manifestations of atopic dermatitis (AD) are characterized by significant itching, which can lead to skin trauma and sleep disturbances. The pathogenesis of AD is suspected to occur due to a complex interaction between genetic factors, environmental factors, skin barrier dysfunction, and immune system disorders. The gene involved in the skin barrier dysfunction of AD is located on chromosome 1q21, specifically the filaggrin gene. Mutations in filaggrin play a crucial role in the occurrence of skin barrier dysfunction, decreased ceramide levels, increased endogenous proteolytic enzymes, and increased transepidermal water loss (TEWL). The genes involved in the immunological response of atopic dermatitis (AD) are located on chromosome 5q31-33, which regulates T helper (Th) 2 cytokines such asinterleukin (IL)-3, IL-4, IL-5, IL-13, and granulocyte macrophage colony-stimulating factor (GM-CSF). The management of AD aims to reduce symptoms, prevent disease recurrence, and improve quality of life. The use of topical corticosteroids is one way to reduce inflammation in AD. Long-term use of topical corticosteroids is not recommended because it can cause side effects such as atrophy, telangiectasia, striae, acneiform eruptions, perioral dermatitis, and hyper/hypopigmentation. Physalisangulata Linn. or ciplukan or cecendet is a plant from the Solanaceae family that grows in tropical regions. In the study by Pereda et al. in 2018, it was found that sitosterol, stigmasterol, and physalin contained in ciplukan extract affect inflammation and immunological processes such as hydrocortisone in vitro, without reducing skin healing factors. In vivo, the ciplukan cream significantly reduced microcirculation and skin temperature after the application of the irritant methyl nicotinate on human skin. Topical therapy with ciplukan (Physalis angulata Linn.) has minimal side effects but offers significant therapeutic benefits as an alternative. This research method was conducted by evaluating the effectiveness of a topical preparation of ciplukan (Physalis angulata Linn.) in albumin vaseline with a concentration of 1:2, compared to 0.1%betamethasone valerate cream as an anti-inflammatory on AD lesions. The parameters used to assess the effectiveness of the ciplukan topical preparation include measuring TEWL using a tewameter, hydration using a corneometer, and changes in erythema color on the lesions using a spectrophotometer.

 

 

Artikel terkait