June 20, 2025

Mengolah Sampah Melalui Budidaya Maggot

Gambar3_2

Volume sampah yang melimpah akhir-akhir ini menjadi masalah yang mengemuka di Kota Bandung. Tumpukan sampah di beberapa pembuangan sampah sementara, pasar-pasar, bahkan di Tempat Pengolahan Akhir (TPA), menjadi problem yang mengganggu lingkungan, kesehatan dan estetika kota. Bila tidak dikelola dengan baik, limbah organik dan anorganik dari kegiatan dosmestik maupun pasar berpotensi mencemari lingkungan.  Oleh karena  itu  perlu  adanya  upaya  pengelolahan  yang efektif agar sampah  organik  bisa  menjadi  sesuatu yang berguna dan mempunyai nilai ekonomi. Salah satu opsi pemanfaatan limbah organik adalah dengan  memanfaatkannya sebagai media tumbuh larva melalui proses biokonversi.

Biokonversi adalah perombakan sampah organik yang melibatkan makhluk hidup, salah satunya menggunakan larva serangga seperti Black Soldier Fly (BSF) (Gambar 1).  Pada saat berbentuk larva, BSF mampu mengkonversi limbah organik karena memiliki enzim dan bakteri dalam ususnya yang membantu memecah bahan organik menjadi nutrisi yang dapat mereka konsumsi. Kelebihan budidaya maggot BSF dibandingkan dengan pengolahan menjadi kompos yaitu tidak membutuhkan waktu yang lebih singkat dan setiap hari maggot BSF membutuhkan makanan dari sampah organik, sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengelola sampah agar tidak mencemari lingkungan.

Gambar 1. Maggot BSF dewasa untuk sumber protein dalam  pakan ikan

 

Pengolahan sampah dengan memanfaatkannya sebagai media budidaya maggot selama ini telah dilakukan oleh sebagian pengelola sampah di Kota Bandung. Saat ini telah terdapat 148 unit budidaya maggot yang melibatkan 195 orang pengelola sampah di berbagai kelurahan di Kota Bandung. Sejauh ini  terdapat 151 kelurahan di Kota Bandung yang memiliki  kegiatan budidaya maggot yang mereka sebut dengan “Rumah Maggot”. Setiap hari tempat penampungan sampah di tingkat Rukun Warga (RW) menerima sebanyak 150-200 kg sampah, dan 80% diolah menjadi media budidaya maggot. Sementara itu maggot yang dihasilkan telah mereka olah menjadi tepung maggot, pakan ikan lele dan kompos berupa kasgot (media bekas budidaya maggot).

Masalah yang dihadapi para pengelola sampah yang bergerak dalam budidaya maggot adalah kualitas produk maggot dan turunannya yang telah dihasilkan masih kurang sesuai dengan standar yang diinginkan oleh konsumen. Maggot memiliki presentase komponen nutrisi yang berbeda pada setiap perbedaan umurnya. Kadar lemak maggot cenderung berkorelasi positif dengan peningkatan umur yaitu, sebesar 13,37% pada umur 5 hari dan meningkat menjadi 27,50% pada umur 25 hari. Sedangkan kadar protein kasar pada maggot akan semakin berkurang sesuai dengan peningkatan umur. Demikian juga saat dimanfaatkan sebagai pakan ikan, pellet dan kasgot yang dihasilkan harus memiliki kandungan protein, nitrogen, fosfor dan kalium yang sesuai standar. Berdasarkan kebutuhan tersebut, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Departemen Perikanan FPIK Unpad melakukan evaluasi produk dan penyuluhan untuk meningkatkan kualitas produksi maggot dan produk turunannya pada beberapa pembudidaya maggot yang tergabung dalam Kelompok Pengelola Sampah Kota Bandung.

 

Gambar 2. Kegiatan Penyampaian Materi dan Kunjungan Budidaya Maggot

Kegiatan budidaya maggot sebagai dekomposer alami sampah organik akan menghasilkan tiga produk utama yaitu : 1) larva, yang bisa digunakan  sebagai pakan ikan dan ternak, 2) cairan hasil aktivitas larva yang dapat digunakan sebagai pupuk cair,dan 3) Sisa media budidaya (kasgot) yang  dapat digunakan sebagai kompos.

Berdasarkan produk-produk yang dihasilkan dari budidaya maggot tersebut, Tim Penyuluh yang terdiri dari Prof. Yuli Andriani, MP., Dr, Iskandar, M.Si. dari Departemen Akuakultur FPIK Unpad dan Wahyu Indra , S.Pt.,  dari Rumah Edukasi Biomethagreen, memberikan materi yang berkaitan dengan peningkatan kualitas dalam budidaya maggot serta pemanfaatan maggot sebagai pakan ikan dan pupuk alami yang ramah lingkungan. Kegiatan ini dilengkapi dengan kunjungan di instalasi budidaya maggot di Biomethagreen yang sekaligus menjadi role model kegiatan agrokompleks yang terintegrasi (integrated farming system). Kegiatan ini juga dihadiri oleh Irfan Zidni,PhD,. sebagai Kepala Pusat Pengembangan Pengabdian kepada Masyarakat DRHPM Unpad (Gambar 3)

Dalam pemaparan, tim penyuluh menyampaikan bahwa maggot BSF dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan ternak. karena mudah berkembangbiak, memiliki protein tinggi yaitu 61,42% dan asam amino yang lengkap. Komponen protein mempunyai peran yang penting dalam suatu formula pakan karena berfungsi dalam pembentukan jaringan tubuh serta berperan aktif dalam metabolisme vital seperti enzim, hormon, antibodi dan sebagainya.  Tingginya  nutrisi  yang terkandung  pada maggot,  ketersediaannya  yang  melimpah, serta media tumbuhnya yang mudah dibuat menunjukkan  potensi yang baik sebagai  sumber protein dalam  pakan ikan bila diformulasikan dengan tepat (Beski  et  al., 2015). Demikian pula dengan produk pupuk organik cair dan kompos kasgot yang dihasilkan dari budidaya maggot, sangat bermanfaat dijadikan pupuk yang ramah lingkungan dan ekonomis.

 

Gambar 3. Para peserta kegiatan penyuluhan dan pelaksana PKM

Diharapkan kegiatan penyuluhan tersebut akan secara berkesinambungan meningkatkan wawasan dan semangat para pengolah sampah khususnya dan masyarakat umumnya untuk lebih giat melakukan pengolahan sampah secara mandiri, sekaligus menghasilkan produk-produk yang bernilai ekonomi yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Lebih jauh kegiatan transfer teknologi ini menguatkan komitmen UNPAD untuk hadir dan bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungannya.

Artikel terkait