Daerah Jatinangor termasuk daerah sibuk karena terdapat tiga kampus besar yang dipadati oleh mahasiswa, sehingga penduduk lokal memanfatkan kondisi tersebut untuk membuat rumah makan. Namun dengan banyaknya tempat makan terdapat permasalahan yang cukup serius, yaitu banyaknya limbah yang dihasilkan oleh tempat makan. Mulai dari limbah organik, anorganik, hingga limbah B3 yang tidak diketahui oleh masyarakat awam. Terlebih jika, ketika sampah itu tidak terpisah. Bahaya dampak dari limbah tersebut semakin membuat permasalahan di Kecamatan Jatinangor meningkat.
Pada awalnya ketika jumlah penduduk di Jatinangor masih sedikit, sampah bukan merupakan sebuah permasalahan. Namun, seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitasnya, maka sampah semakin besar jumlah dan variasinya. Karena itu, diperlukan upaya pengelolaan yang lebih untuk menangani sampah dalam jumlah yang besar. Pengelolaan sampah sangat diperlukan mengingat dampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan.
Maka dengan adanya permasalahan ini, tim PPM Universitas Padjadjaran (Unpad) yang diketuai oleh Prof. Dr. Risdiana, S. Si., M. Eng. Dibantu beberapa anggotanya yaitu Dr. Atiek Rostika Noviyanti, M.Si., Dr. Togar Saragi, M.Si., Dr. Yuli Andriani, MP., Dr. Budi Adiperdana, M.Si., Nowo Riveli, Ph.D., Dr. Imran Hilman Mohammad, M.Si., Otong Nurhilal, S.Si. M.Si., An-Nissa Kusumadewi, drg., Sp.Pros. Dan juga dibantu oleh Tim KKN 2019 untuk melakukan mengenai rancang bangun alat pengolah sampah portabel untuk limbah rumah makan sebagai solusi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat di kecamatan Jatinangor.
Dalam penelitian yang menjadi acuan dalam kegiatan pengabdian ini yang menjadi objek penelitian ini berupa limbah rumah makan yang ada di Kecamatan Jatinangor. Maka dilakukanlah pencarian rumah makan di kawasan Jatinangor, dan didapatkan 29 rumah makan yang diambil secara acak. Untuk memperoleh informasi menggunakan teknik wawancara semi terstruktur dan dengan metode kualitatif. Setelah melakukan wawancara, dilakukan pengambilan sampel limbah dari salah satu rumah makan. Didapakan satu kantung plastik seberat 858 gram limbah lalu diolah menjadi pelet untuk pakan ikan. Lalu dilakukan pengujian di laboratorium Kimia untuk mengetahui kadar protein pada pelet ikan tersebut. Berdasarkan hasil laboratorium, diketahui bahwa kadar protein yang terdapat dari sampel pelet adalah sebesar 45,6%. Tingginya kadar protein ini kemungkinan dipengaruhi oleh jamur yang terdapat pada pelet ikan tersebut.
Rancangan Bangun Alat Pengolah Sampah Portable untuk Limbah Rumah Makan Sebagai Solusi Meningkatkan Pendapatan Masyarakat di Kecamatan Jatinangor guna menciptakan wilayah jatinangor yang bersih dan nyaman, karena salah satu faktor yang menyebabkan rusaknya lingkungan hidup yang sampai saat ini masih tetap menjadi permasalahan besar bagi wilayah Jatinangor. Didalam dunia modern muncul berbagai bentuk ancaman yang tidak terdeteksi oleh panca indera kita, yaitu berbagai jenis racun yang dibuat oleh manusia sendiri yaitu berupa limbah sampah, sebagian besar dampak yang diakibatkannya memang berdampak jangka panjang, seperti kanker, kerusakan saraf, gangguan reproduksi, dan lain-lain yang diakibatkan oleh pencemaran udara yang dihasilkan oleh sampah yang mengandung bahan kimia tersebut.
Proses penanganan alat Pengolah Limbah Sampah Portable dimulai dari proses pengumpulan limbah, pemisahan limbah organik dan anorganik, penggilingan sample, penjemuran pelet, perlakuan uji proksima dalam laboratorium, hingga pelet dapat diketahui layak untuk diberikan pada ikan atau tidak. Berdasarkan uji kimia dan fisik hasilnya kurang baik karena kandungan protein yang tinggi dan telah ditumbuhi jamur. Penerapan mengolah limbah menjadi bermanfaat di Kecamatan Jatinangor melalui pengelolaan limbah sisa makanan dari rumah makan berupa tulang ayam, nasi, dan lauk pauknya dapat mengurangi 7 kuintal/bulan limbah tersebut. Berarti dapat meningkatkan kualitas dan pendapatan masyarakat Jatinangor.