October 31, 2010

Penguatan Kelembagaan Kemitraan Menunjang Peningkatan Pengadaan dan Kelancaran Distribusi Benih Kentang dan Bawang Merah di Jawa Barat

Prof. Dr. H. Maman H. Karmana, Drs. Thomas Agoes Soetiarso, M.Si, Ir. Asih K. Karyadi Fakultas: PERTANIAN Sumberdana: KKP3T Tahun: 2010 Abstrak: Benih sebagai salah satu input produksi di bagian hulu, mempunyai peranan strategis dalam peningkatan produksi dan nilai tambah pertanian. Ketersediaan benih bermutu dari varietas unggul sampai saat ini masih merupakan masalah besar dalam sistem produksi pertanian. Kendala penyediaan benih disebabkan karakteristik usaha benih yang memiliki risiko tinggi. Dalam konteks pengadaan dan distribusi benih, tidak terlepas dari peran kelembagaan sebagai elemen penting dalam upaya peningkatan produktifitas usahatani dan perbaikan kemampuan produksi petani. Peran kelembagaan ini sering terlupakan karena peran nyatanya dalam proses produksi sering berada dalam posisi lemah. Penelitian ini mengkaji peran dan fungsi kelembagaan perbenihan kentang dan bawang merah di Jawa Barat dalam mendukung kelancaran distribusi benih. Penelitian ini menggunakan metode survey dan menganalisis margin pemasaran perbenihan, pola kelembagaan kemitraan, serta secara deskriptif menyususn rancangan penguatan kelembagaan perbenihan kedua komoditas. Hasil deskripsi kelembagaan menunjukkan, bahwa dalam pengadaan dan distribusi benih kentang ditemukan kelembagaan: 1) Balai Penelitian, Swasta, 2) Balai pengadaan benih kentang, 3) Penangkar Benih I, 4) penangkar benih II, 5) pedagang/toko benih, 6) Makelar, 7) petani untuk varietas Granola, sedangkan untuk varietas Atlantik hanya ada dua lembaga yang terlibat, yaitu : 1) PT. Indofood, dan 2) Petani. Sedangkan pada sistem pengadaan dan distribusi benih bawang merah, ditemui kelembagaan: 1) petani penangkar, 2) pedagang besar/toke benih, 3) pedagang kecil benih, 4) Makelar/agen benih, dan 5) Petani. Hasil analisis rantai pemasaran benih kentang ditemukan 2 rantai pemasaran benih kentang varietas Granola bersertifikat, 2 rantai pemasaran benih kentang varietas Granola tidak bersertifikat (lokal), dan satu rantai pemasaran benih kentang impor (varietas Atlantik). Sedangkan hasil analisis margin pemasaran benih bawang merah ditemukan 4 rantai pemasaran benih bawang merah lokal dan 1 rantai pemasaran benih bawang merah import. Rantai 1 pemasaran benih bawang merah lokal dinilai lebih efisien, karena margin pemasarannya sama dengan nol, dan rantai pemasaran 2 dinilai kurang efisien, karena marginnya tinggi. Untuk pola kemitraan pada perbenihan kentang varietas Granola tidak ditemukan bentuk kemitraan khusus, petani bebas melakukan transaksi. Bentuk kemitraan terjadi pada benih kentang varietas Atlantik, khususnya dalam hal penyediaan benih oleh PT. Indofood. Petani memperoleh pinjaman biaya benih yang dibayar setelah panen, jaminan pemasaran hasil termasuk harga jual yang telah disepakati sebelum proses produksi. Sedangkan pola kemitraan pada bawang merah lokal tidak ditemui bentuk kemitraan khusus, petani penangkar menjual benihnya secara bebas ke pihak lain. Kemitraan ditemui pada distribusi benih impor antara pedagang besar dengan petani dalam hal jaminan pengadaan benih dan jaminan pasar, namun belum ada jaminan harga benih dan bawang merah. Lembaga permodalan yang cukup berperan dalam sistem perbenihan kentang adalah diantaranya BRI, Bank Jabar, Bank Syariah Amanah dan BPR dapat diakses dengan baik oleh petani dan penangkar. Pola Kemitraan yang sudah terjalin dengan baik adalah antara PT. Indofood dengan petani kentang varietas Atlantik. Dalam sistem perbenihan bawang merah kelembagaan permodalam formal kurang berkembang, sementara kelembagaan permodalan informal berkembang baik. Namun pada pedagang besar akses mereka terhadap kelembagaan formal sangat baik. Untuk menguatkan kelembagaan permodalan formal, perlu adanya perobahan mekanisme dan aturan yang digunakan, sehingga bisa dipenuhi oleh petani dan penangkar benih. Rancangan kelembagaan benih bawang merah dapat dilakukan dengan mengadakan sistem resi gudang (warehouse receipt system ) oleh asosiasi atau koperasi, sedangkan penguatan kelembagaan permodalan dilakukan dengan membuka akses yang luas terhadap petani melalui perubahan mekanisme lama menjadi mekanisme yang sesuai dengan kondisi petani. Kata kunci:

Artikel terkait