Nama Lengkap : Dr. Ardini Saptaningsih Raksanagara, dr., MPH
E-mail : [email protected]
Bidang Keahlian : Kesehatan Masyarakat
Prodi S2 Calon Mahasiswa : Magister Epidemologi
Prodi S3 Calon Mahasiswa: Doktor Teknologi Agroindustri
Judul Penelitian yang Ditawarkan:
PENGEMBANGAN MODEL KOMBINASI TEKNIK INTERVENSI ERGONOMI DENGAN PENDEKATAN PARTISIPATORI DALAM MENURUNKAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PEKERJA MAKANAN RINGAN
COMBINATION MODEL DEVELOPMENT ON ERGONOMIC INTERVENTION TECHNIC WITH PARTICIPATORY APPROACH TO DECREASE MUSCULOSCELETAL SYMPTOMS AMONG FOOD WORKERS
Abstrak:
Pertumbuhan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) diharapkan semakin pesat, pada tahun 2017 Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Republik Indonesia (RI) melaporkan jumlah unit UMKM sebagai 62,9 juta (99,9%) dari total keseluruhan pelaku usaha. Hal ini sejalan dengan kebutuhan masyarakat dengan berbagai produk inovatif yang juga semakin meningkat. Bertambahnya jumlah UMKM di masyarakat tentu sejalan dengan penambahan jumlah pekerja. Badan Pusat Statisitk (BPS) tahun 2017 mencatat sebanyak 116,63 juta pekerja UMKM di Indonesia. Angka ini mencapai 97% dari jumlah seluruh pekerja di Indonesia.
Pekerja UMKM dalam menjalankan pekerjaan seringkali mengeluhkan berbagai gangguan kesehatan, salah satu gangguan kesehatan yang banyak dirasakan pekerja adalah keluhan muskuloskeletal. Keluhan muskuloskeletal merupakan permasalahan kesehatan yang banyak dikeluhkan pekerja. Akibat keluhan muskuloskeletal ini dapat mengakibatkan penurunan produktifitas, jumlah ketidakhadiran bekerja yang bertambah, dan peningkatan kompensasi biaya pengobatan. Banyak hal yang dapat menyebabkan terjadinya keluhan muskuloskeletal pada pekerja, yang dapat dikelompokkan menjadi faktor internal dan eksternal pekerja. Faktor internal pekerja atau disebut juga non job work related factors contohnya adalah jenis kelamin, usia, penyakit terdahulu, kebiasaan kerja, tingkat pendidikan, pengalaman kerja, basal metabolic index (BMI), konsumsi alkohol/rokok, antropometri, kebugaran tubuh, dan pengetahuan ergonomi.
Faktor eksternal pekerja atau disebut juga job related factors dibagi menjadi faktor fisik, faktor psikososial, dan lingkungan seperti temperatur, cahaya, kebisingan, dan getaran. Beragamnya faktor yang dapat menyebabkan keluhan muskuloskeletal tersebut tentunya membutuhkan intervensi ergonomi yang menyeluruh sehingga hasil yang diharapkan dapat diperoleh secara optimal. Intervensi terhadap 1 faktor saja kurang maksimal dalam menurunkan keluhan muskuloskeletal pekerja, sehingga model kombinasi intervensi menjadi prioritas. Adanya faktor kebiasaan bekerja juga perlu menjadi perhatian khusus didalam menyusun intervensi ergonomi sehingga diperlukan melibatkan pekerja sebagai subjek (partisipatori) dalam menentukan intervensi yang dapat menyesuaikan dengan kebiasaan mereka. Berbagai bentuk intervensi ergonomi yang dapat dilakukan adalah cognitive behaviour therapy, peregangan, rekayasa teknik, perbaikan lingkungan dan organisasi kerja.
Jumlah UMKM di Jawa Barat pada tahun 2016 sebanyak 4.599.247 yang merupakan jumlah terbanyak ke-2 di Indonesia. Data dinas koperasi dan usaha kecil dan menengah (DISKUKM) Jawa Barat pada tahun 2021, Kabupaten Bandung menempati urutan ke-2 terbanyak di Jawa Barat setelah Kota Bogor dengan jumlah UMKM sebanyak 476.954 unit. Sedangkan jumlah pekerja UMKM pada tahun 2018 untuk wilayah Kabupaten Bandung sebanyak 22.411 orang. Tingginya jumlah unit usaha dan pekerja UMKM di wilayah Kabupaten Bandung tentunya menjadi perhatian untuk mengurangi angka kejadian keluhan muskuloskeletal pekerjanya. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan produktifitas produksi yang akan berdampak terhadap kemajuan ekonomi rakyat. Pengembangan model intervensi kombinasi yang sesuai dengan kondisi UMKM khususnya pada pekerja produksi makanan ringan sangat diperlukan.
Abstract :
The increasing number of micro, small and middle industries has been proposed by government, since 2017 the Ministry of Coperation and small middle industry in Indonesia reported the number of this industries as much as 62.9 million or 99.9% from total industries. This fact in relation with the increasing need of community on inovative products. The increasing of this industries will increase the number of labour. Statictics Bereau in 2017 reported 116.63 million workers in small middle insustries in Indonesia, almost 97% of total workers in Indonesia.
Labours in small middle industries tend to have a lot of health problems, mostly related to musculosceletal symptoms. This symptoms might decrease productivity, working absence and increasing in insurance compensation. Factors related to this symptoms can be categorized into internal and external. Interbal factors or non job work related factors such as gender, age, previous diseases, working habits, level of education, BMI, alcohol/smoking, antropometrics status, fitness and knowledge on ergonomics.
External factors or job related factors are physical, psychosocial, environment (temperature, lighting, noise and vibration). The variation of these factors which cause musculosceletal symptoms need holistic ergonomic interventions to maximize optimal outcome, since single intervention will not effective to decrease the workers symptoms so that combination model should be priority. Habits of workers is also important factor so that participatory study should be needed to provide tailor made intervention based on the workers situation. Some of ergonomic intervebtion are cognitive behaviour therapy, relaxation, technical engineering, environment change and labour organization.
The number of small middle industries in West Java Province in 2016 was 4,599,247 as 2nd highest in Indonesia. Data in 2021 reported Bandung Subdistrict was the 2nd after Bogor Subdistrict with 476,954 units. High number of the workers with high potential of musculosceletal risk need the development of combination model of intervention to increase the productivity of the workers.