February 1, 2010

Agenda Menguatkan Ekonomi Kerakyatan

Ira (30) melangkah mantap ke depan corong pengeras suara. Setelah memperkenalkan diri, ia langsung menyampaikan unek-uneknya membuka usaha kecil-kecilan di kota Bandung. Saat ini susah mempunyai usaha kecil karena tidak mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah. Padahal dia harus bersaing dengan pengusaha kecil lain dan pedagang eceran. Akibatnya, usaha Ira tak bertahan lama. Ia pun sampai pada pertanyaan besar, ke mana lagi harus mengadukan keluhan pengusaha UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) atas masalah tersebut?

       Pertanyaan itu ia lontarkan ketika menghadiri seminar nasional bertajuk “Agenda Menggerakkan Sektor Riil”, di kampus lama Unpad Bandung, baru-baru ini. Seminar itu bagian dari Pekan Ilmiah Unpad (PIU) 2009, yang diselenggarakan dalam rangka perayaan hari jadi ke-52 Unpad. Panitia seminar ini semula akan menghadirkan Wakil Presiden, Boediono dan dua menteri Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II sebagai pembicara. Namun ketiga tokoh itu berhalangan hadir. Mereka digantikan oleh Leonard Tampubolon dari Direktorat Keuangan Negara, Bappenas, dan Agus Cahyana dari Departemen Perindustrian, sedangkan dari Fakultas Ekonomi Unpad tampil Prof. Dr. Ina Primiana.

Kepada Warta LPPM Ira mengisahkan nasib warung kelontong yang dikelola bersama ayahnya sejak 2007. Kini warungnya gulung tikar. Pada awal berdiri sebenarnya usaha Ira sudah menarik banyak konsumen. Saat itu ia diuntungkan karena tidak ada usaha serupa di daerahnya yakni di Pasir Wangi, Ujung Berung, Bandung. Tak heran, ia bisa meraup margin hingga Rp 500 per item. Namun dalam hitungan bulan usaha serupa mulai bermunculan. Kondisi ini menyebabkan Ira harus bersaing, dan terpaksa terus menurunkan margin per item-nya, bahkan hingga Rp 100 per item. Kemudian dalam waktu setahun, di dekat tempatnya berusaha sudah berdiri minimarket modern. Pada akhirnya ia sekadar mengoperasikan usahanya tanpa ambil untung lagi.

Kisah Ira ini hanya salah satu contoh kecil dari permasalahan keterbatasan modal dalam sektor riil di Indonesia. Di lingkup yang lebih luas, masalah aturan ketenagakerjaan yang belum kondusif, biaya operasional tinggi, dan biaya produksi manufaktur yang tinggi masih membayangi. Belum lagi masalah birokrasi dan kepastian hukum yang tidak kondusif serta ketersediaan infrastruktur dan sumber daya manusia yang terbatas. Demikianlah salah satu hal besar yang mengemuka dalam sesi pertama seminar ini.

“Dalam rangka mengatasi permasalahan tersebut dan memulihkan perekonomian nasional, dibentuk beberapa arah kebijakan pembangunan ekonomi,” kata Leonard.

Salah satu kebijakan tersebut adalah meningkatkan pemerataan pembangunan dan kesempatan berusaha yang dapat mengangkat derajat kesejahteraan masyarakat, terutama bagi penduduk yang kurang mampu. Kaitannya dengan menggerakkan sektor riil terutama di bidang UMKM, pemerintah akan meningkatkan pemberdayaannya termasuk memberdayakan Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Program ini sendiri akan dijalankan selama setahun. Bentuk konkrit dari program tersebut salah satunya adalah merekomendasikan agar RUU LKM segera diselesaikan. Sementara itu, revitalisasi Kredit Usaha Rakyat akan menjadi program 100 hari pemerintah bersangkutan. Begitu pula usaha mengembangkan kapasitas UKM. Namun, Leonard tidak menyebutkan lebih lanjut seperti apa bentuk konkrit dari program-program tersebut.

Pemerintah bukannya tak memperhatikan nasib pengusaha UMKM. Beberapa agenda menggerakan sektor riil terutama di bidang pemberdayaan UMKM sudah dibuat. Namun, pada kenyataannya program ini belum menyentuh pengusaha sekelas Ira. Ia masih menyesalkan tidak adanya perhatian dari pemerintah kepada pengusaha UMKM. Dalam mengajukan kredit modal pun dirinya merasa dipersulit. Ia harus mengurus Nomor Pajak Wajib Pajak (NPWP) dan berbagai keperluan administrasi lainnya. Akhirnya kredit modal urung diajukan. Bantuan dari pemerintah tak jadi diterima.

“Saya menyimpan harapan kepada Unpad khususnya kepada para pendidik yang biasanya mempunyai banyak link. Mereka diharapkan mampu membuat dan merealisasikan terobosan untuk membantu. Misalnya, mengoordinasikan perkumpulan UMKM untuk membuat pelatihan gratis,” kata Ira.

Selama ini tidak pernah ada pelatihan bagi warga masyarakat agar dapat menjadi pengusaha UMKM. Diharapkannya pula Unpad dapat membantu mencari barang-barang jualan dengan harga rendah. Para pedagang sering sulit mencari barang jualan yang murah.

Seminar yang bertujuan membahas isu-isu nasional serupa di atas direncanakan menjadi agenda tahunan dalam rangkaian acara PIU. Seperti halnya PIU pertama (2008), PIU 2009 yang berlangsung selama empat hari itu masih berorientasi kepada dosen, peneliti, dan warga masyarakat di luar kampus.

Sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, tahun ini mulai dihadirkan layanan konsultasi gratis bertajuk “Unpad untuk Masyarakat”. Konsultasi itu meliputi bidang kesehatan, hukum, psikologi, ekonomi, dan pertanian. Chay Asdak, Ketua Panitia PIU 2009 mengatakan, kelima bidang ini dipilih berdasarkan asumsi banyaknya warga masyarakat yang memerlukan informasi atau treatment gratis di bidang-bidang tadi. Ternyata  stand yang paling banyak pengunjungnya adalah stand kesehatan, yang didukung oleh Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Keperawatan, serta stand psikologi (Fak. Psikologi).

“Ada yang menanyakan layanan dari Fakultas Kedokteran Gigi, tapi untuk tahun ini FKG belum bisa bergabung,” ungkap Chay.

Ia mengharapkan FKG akan ikut bergabung pada PIU 2010. Selain layanan kesehatan gigi, Panitia PIU mendatang juga menghadirkan  layanan konsultasi pengobatan herbal yang didukung Fakultas Farmasi. 

Selain berbentuk konsultasi, dalam PIU 2009 warga masyarakat juga bisa mengetahui hasil penelitian beserta inovasi teknologi yang dikembangkan di Unpad melalui bazaar. Berbagai produk penelitian dosen-dosen dari belasan fakultas disajikan, mulai dari buku, panduan-panduan, hingga mesin yang diproduksi sendiri, sedangkan produk inovasi teknologi merupakan hasil mitra kerja Unpad.

Hasil penelitian fakultas tak hanya bisa diketahui dari bazaar, tapi juga dipublikasikan melalui seminar bertajuk “Seminar Hasil Penelitian Fakultas”. Sebanyak 16 fakultas yang ada di Unpad mengajukan maksimal sepuluh hasil penelitian yang sangat baik kepada panitia PIU. Dalam PIU 2009 seminar diadakan pada 16-17 November dengan total 160 penelitian. Jumlah yang besar ini hanya memungkinkan presentasi dilakukan secara paralel dan singkat.

Stand Konsultasi Fakultas Kedokteran dan Fakultas Keperawatan banyak mendapat apresiasi dari pengunjungi untuk konsultasi kesehatan gratis, merupakan bagian dari pengabdian unpad kepada masyarakat, Graha Sanusi Hardjadinata,  16 – 19 November 2009

“Seminar ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada peneliti untuk saling tahu apa hasil penelitian fakultas lain dan sebagai proceeding hasil penelitian fakultas,” kata Chay.

PIU yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unpad itu juga menghadirkan ragam acara baru yakni Lomba Foto Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diikuti oleh banyak dosen dan mahasiswa.

Yang tak kalah ramai adalah acara talk show (bincang-bincang) dengan topik, “Unpad di Era Sains dan Teknologi”, dipandu presenter TV One, Tina Talisa. Semula acara ini hendak disiarkan live di TV One, namun urung dilaksanakan karena adanya salah koordinasi antara panitia PIU dengan pihak Rektorat Unpad. Menurut Chay, acara yang disiapkan selama dua bulan ini bisa dibilang meningkat dari segi ragam acaranya. Namun, antusiasme masyarakat terhadap PIU masih kurang meskipun telah dipublikasikan melalui radio dan media lain.

“Ini bagian dari kelemahan kita. Kita belum bisa mengemas dan memasarkan acara sehingga menarik banyak orang, terutama warga akademik dari luar Unpad. Kita masih lemah dalam kaitannya menarik pengunjung. Masih belum seperti yang kita harapkan,” ujar Chay jujur. Kehadiran mahasiswa dan dosen Unpad sendiri dirasa masih kurang sekali. Hanya segelintir dosen dan mahasiswa hadir di PIU. Itu pun adalah mereka yang berkampus di Bandung. Oleh sebab itu, untuk menarik minat mahasiswa, tahun depan acara akan dirancang “ramah mahasiswa”.

 “Ke depannya acara juga akan dirancang untuk bisa melibatkan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa—red.), sehingga BEM bisa mengisinya dengan atraksi. Selain itu, kita juga akan melibatkan SMA yang ada di Bandung, sehingga siswa bisa menikmati apa saja yang dilakukan dan dihasilkan universitas,” kata Chay.

PIU 2010 masih tetap dipusatkan di kampus Bandung. Hal ini dilakukan untuk mendekatkan diri dengan konsumen yang berasal dari luar Unpad, terutama dari luar kota Bandung.

“Mungkin akan lebih banyak orang datang kalau diadakan di Jatinangor, tapi akan didominasi oleh mahasiswa dari berbagai fakultas yang ada di sana. Karena lokasinya relatif terpencil, sehingga diperkirakan tidak akan menarik banyak warga masyarakat yang ada di luar Jatinangor,” tambah Chay.

Tentu tidak tertutup kemungkinan PIU mendatang diselenggarakan di kampus Unpad Jatinangor, apalagi bila Rektor, para Pembantu Rektor, dan semua jajarannya telah hijrah  ke sana. Nanti PIU pasti dibanjiri dosen dan mahasiswa, tentu tanpa mobilisasi. ***

Vanya Chairunisa ([email protected])

Artikel terkait