December 16, 2019

Sosialisasi Pengembangan Ubi Jalar Unggul Unpad untuk Peningkatan Produksi pada Petani di Sentra Ubi Jalar Daerah Aliran Sungai Citarum Kabupaten Bandung

Tim Program Pengabdian Masyarakat (PPM) Universitas Padjajaran yang diketuai oleh Dr.Sc.Agr. Agung Karuniawan, Ir., M.Sc.Agr. dan beranggotakan Dr. M.Amir Solihin, S.P., M.T.; dan Eso Solihin, S.P., M.P telah melakukan pengabdian dan sosialisasi mengenai pengembangan ubi jalar unggul Unpad untuk peningkatan produksi pada petani di sentra ubi jalar daerah aliran Sungai Citarum, Kabupaten Bandung.

Adapun lokasi dilaksanakannya kegiatan ini yaitu di Cimaung, Kabupaten Bandung. Cimaung, Kabupaten Bandung merupakan salah satu daerah penghasil produk pertanian di Jawa Barat dan memiliki kondisi wilayah yang sesuai untuk budidaya ubi jalar. Ubi jalar merupakan salah satu komoditas pertanian unggulan Jawa Barat. Namun pemenuhan permintaan masih belum sejalan dengan produksinya. Sehingga hal tersebut berpengaruh terhadap pelaku usaha yang memanfaatkan ubi jalar sebagai komoditas utamanya. Selain itu, tingginya alih fungsi lahan di DAS Citarum menyebabkan semakin meningkatnya ancaman kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, penerapan teknologi penanaman ubi jalar melalui demonstrasi plot di Cimaung, Kabupaten Bandung merupakan salah satu upaya pengembangan ubi jalar unggul Unpad yang sangat prospektif dan dapat membantu pencegahan alih fungsi lahan di DAS Citarum.

Metode pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan metode work-shop, PPS, dan praktek langsung (demonstrasi plot) di wilayah Cimaung. Kegiatan ini melibatkan para petani dan masyarakat sekitar, serta mahasiswa.

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendapatkan informasi potensi wilayah dalam pengembangan ubi jalar unggul Unpad, meningkatkan pengetahuan dan kemampuan petani dalam mengembangkan ubi jalar unggul Unpad, dan meningkatkan wawasan mahasiswa agar lebih memahami pemanfaatan sumber daya lokal. 

Tahapan Kegiatan:
Tahap pertama yaitu survei lokasi dan potensi hasil, tahap kedua penyuluhan penerapan teknologi, tahap ketiga demonstrasi plot, kemudian tahap keempat atau tahap terakhir merupakan evaluasi kegiatan. Dalam semua tahapan, dosen terlibat sebagai pelaku utama, mahasiswa terlibat sebagai peserta kegiatan, dan masyarakat yang berperan sebagai peserta kegiatan juga.

Karakter komponen hasil termasuk ke dalam karakter kuantitatif yang dikendalikan oleh banyak gen dan dipengaruhi fator lingkungan. Komponen hasil yang utama adalah bobot total perplot, bobot umbi ekonomis, dan kadar brix. Berdasarkan hasil uji F, semua karakter berbeda nyata. Perbedaan yang nyata untuk karakter-karakter yang diuji menunjukkan latar belakang genetik plasma nutfah yang beragam karena genotip- genotip yang diuji merupakan hasil outcrossing dari beberapa tetua induknya.

Nilai Koefisien Variasi (KV) menunjukkan tingkat ketepatan dalam suatu percobaan. KV merupakan indeks ketelitian yang baik untuk suatu percobaan karena menunjukkan galat percobaan sebagai persentase dari nilai tengah umum. Berdasarkan hasil percobaan, nilai KV pada karakter jumlah ubi total, bobot ubi total, dan kadar brix menghasilkan nilai KV kurang dari 20%, sedangkan karakter jumlah dan bobot ubi ekonomis memiliki nilai KV lebih dari 20%. Nilai KV yang melebihi 20% menunjukkan bahwa keakuratan karakter tersebut relatif kecil. Besarnya nilai KV tersebut dapat terjadi karena beberapa faktor, diantaranya adalah besarnya jumlah perlakuan, dalam hal ini genotip yang diuji.

Berdasarkan hasil analisis varians, semua karakter yang diuji menunjukkan perbedaan nyata. Oleh karena itu perlu dilakukan uji lanjut. Uji lanjut yang digunakan adalah uji Least Significant Increase (LSI). Uji lanjut digunakan untuk mengelompokkan genotip-genotip yang diuji serta untuk melihat perbedaaan antar genotip yang diuji dibandingkan dengan varietas cek.

Hasil analisis uji LSI yang dilakukan terhadap karakter jumlah ubi ekonomis, bobot ubi ekonomis, jumlah ubi total, bobot ubi total, dan brix, terhitung cukup banyak genotip yang memiliki nilai melebih varietas cek yang pada percobaan. Sepuluh dari sebelas genotip yang diuji dapat dikatakan sebagai ubi potensial.

Artikel terkait